Saat ini, pemerintah Dubai sedang gencar-gencarnya menggenjot sektor pariwisata mereka. Asal tahu saja, pendapatan mereka selama ini digantungkan pada minyak. Ketika muncul laporan cadangan minyak di Dubai semakin menipis, mereka membuat proyek-proyek raksasa untuk menarik lebih banyak turis sekaligus menambah kas negara Uni Emirat Arab.

Salah satu cara yang dilalui adalah pembangunan pulau buatan. Selama ini, kita hanya mengenal Burj al-Arab sebagai hotel yang dibangun di atas sebuah pulau buatan. Tetapi ada lagi yang lebih besar dari itu.

The Palm Islands, terdiri dari 3 pulau berbentuk pohon palem, konon satu diantaranya lebih besar dari pulau Manhattan di New York. Proyek ini dicanangkan oleh Nakheel Properties, meliputi Palm Jumeirah, Palm Jebel Ali, dan Palm Deira.

Setelah 72 jam dibuka penjualannya, semua apartemen dan rumah di Palm Jumeirah (telah rampung) habis terjual. Sementara Palm Jebel Ali dan Deira sedang menjalani reklamasi. Meskipun proyek ini mendapat tentangan dari para pecinta lingkungan, pihak Nakheel menegaskan bahwa pembangunannya tidak merusak karang dan koral di bawah laut.

Proyek reklamasi real estat lainnya adalah The World. Proyek ini merupakan pembuatan 300 pulau pribadi berbentuk peta dunia. Banyak orang terkenal dunia membeli pulau di The World. Slogannya cukup unik, “Nakheel puts Dubai on the map, now The World puts the world on Dubai,” yang memiliki arti proyek-proyek Nakheel membuat Dubai dikenal dunia, dan saatnya The World membuat dunia berada di Dubai.

Pulau-pulau Indonesia yang sebelumnya direncanakan untuk dibangun, akhirnya dibatalkan karena pembuatan cluster pulau Oqyana, yaitu gabungan Australia dan Papua Nugini, sehingga yang tersisa hanya pulau Sumatera.

Proyek yang lebih besar lagi adalah The Universe. Kepulauan ini menggambarkan bentuk tata surya mulai planet Pluto hingga Matahari. Pulau ini akan dibangun antara Palm Jumeirah dan Palm Deira.

Satu lagi proyek superbesar di Dubai, Dubai Waterfront. Proyek itu dirancang sedemikian rupa berbentuk bulan sabit yang akan mengitari setengah Palm Jebel Ali dan direncanakan sebagai kota Dubai baru. Penghuni Dubai Waterfront dan sekitarnya dipastikan mencapai 1.000.000 orang.

Arabian Canal, proyek pembangunan kanal buatan terbesar di dunia, adalah bagian dari Dubai Waterfront. Kanal ini akan melintasi gurun pasir Dubai dan berakhir di Dubai Creek.

Sangat disayangkan apabila pembuatan pulau tersebut dapat merusak ekosistem laut, meskipun belum ada bukti-bukti yang pasti. Sementara itu, Singapura terus membujuk pemerintah Indonesia untuk membuka kembali perdagangan pasir. Akhirnya saya ketahui melalui peranti lunak Google Earth, Singapura sedang memperluas Pulau Sentosa dan Bandar Udara Internasional Changi. Secara langsung, perluasan tersebut dapat mempersempit teritori laut Indonesia di Batam.

Kalau kita lihat, negara-negara Barat dapat diakui sebagai negara maju, namun mereka tidak akan bisa mengalahkan negara-negara Arab dalam bidang arsitektur. Visi bangsa Arab memang sangat maju dan mungkin menurut kita hal tersebut tak mungkin dilakukan, tapi akhirnya berhasil.